Hari ini adalah penanda telah lewat beberapa hari aku tidak bertemu dengan mu. Ku dudukkan tubuhku di taman kampus, merasakan terpaan angin dan daun gugur ke tubuhku. Menghitung awan yang merayap melewati kepalaku dan sesekali merenung sambil memandang semilir yang memainkan daun gugur.
Sang bayu memainkan gerai rambutku hingga berantakan. Aku masih melamun. Daun-daun itu menari dan menggelitik jatuh di telinga ku tapi aku masih terpikir. Terpikir oleh ku sesuatu yang membungkam lidahku. Diam yang memagut batinku dalam sepi. Terpikir sesosok laki-laki yang kudamba dalam degup di bawah hujan yang memeluk bunga lain di depan batang hidungku.
Apa yang paling menyakitkan dari sakit tersayat? Kau pasti tahu. Sakit ini adalah sakit hati, hati yang retak dan patah hati di pelataran cinta. Hatiku menghardiknya. Menghardik sang cupid, malaikat cinta sialan itu. Malaikat cinta yang kau cintai karena bunga itu. Malaikat yang menancap luka di ulu hatiku.

