Heartbeat In The Rain Eps.6 "Akar Pahit"




Aku melihatmu lagi dalam mimpiku kau menyapaku, tersenyum padaku. Aku tak ingin terbangun dari mimpi ini. Aku tak ingin melepas mu pergi. Tapi kau pasti tahu semua orang tak bisa hidup seperti itu. Aku harus bangun dan menghadapi kenyataan pahit bahwa senyum itu pun tak akan menyungging padaku disini, di kehidupan nyata. Aku kembali pada hidupku, meninggalkan mimpiku yang indah dan menghadapi kenyataan yang ada di depan mataku. Bukan waktu yang singkat setengah musim aku tak bertemu dengan mu. Merengkuh hati dan menunggu kau pulang dan akhirnya rindu ini bertepi tapi tetap saja senyum mu sebatas senyum sopan santun padaku dan tak lebih dari itu.

Rinduku jatuh di depan kakiku, melihat mu datang, melihat kau pulang membuat raga ini senang bukan kepalang. Tapi rindu ini tersungkur ketika pelukmu bersandar padanya. Aku ditelan hening, airmataku tak sanggup jatuh seperti rinduku. Sementara dia yang menyambut dengan pelukan, aku hanya bisa menjulurkan tanganku, tersenyum dan hingga saat aku menutup mata dalam tidurku hari itu, aku mengutuk kepecundangan ku dan menyadari betapa hangat tangan mu masih lekat kurasakan di jemari ku. Andai kau tahu…

Tiap hari melangkah bahkan berlari, Kau mungkin lelah, putus asa, ingin menyerah
Kau mungkin menangis dan teriak pada langit Pada Tuhan sang pemberi hidup
Kau mungkin melihat dari hati penuh tanya “Tuhan, apa Kau mendengarku?”



 *teruntuk cerita yang sudah jadi prasasti, inilah mengapa mereka menyebut rindu itu pedih, rindu itu luka.