Aku melihatmu lagi dalam mimpiku kau
menyapaku, tersenyum padaku. Aku tak ingin terbangun dari mimpi ini. Aku tak
ingin melepas mu pergi. Tapi kau pasti tahu semua orang tak bisa hidup seperti
itu. Aku harus bangun dan menghadapi kenyataan pahit bahwa senyum itu pun
tak akan menyungging padaku disini, di kehidupan nyata. Aku kembali pada
hidupku, meninggalkan mimpiku yang indah dan menghadapi kenyataan yang ada di
depan mataku. Bukan waktu yang singkat setengah musim aku tak bertemu dengan
mu. Merengkuh hati dan menunggu kau pulang dan akhirnya rindu ini bertepi tapi
tetap saja senyum mu sebatas senyum sopan santun padaku dan tak lebih dari itu.
Rinduku jatuh di depan kakiku, melihat mu
datang, melihat kau pulang membuat raga ini senang bukan kepalang. Tapi rindu
ini tersungkur ketika pelukmu bersandar padanya. Aku ditelan hening, airmataku
tak sanggup jatuh seperti rinduku. Sementara dia yang menyambut dengan pelukan,
aku hanya bisa menjulurkan tanganku, tersenyum dan hingga saat aku menutup mata
dalam tidurku hari itu, aku mengutuk kepecundangan ku dan menyadari betapa
hangat tangan mu masih lekat kurasakan di jemari ku. Andai kau tahu…
Tiap hari melangkah bahkan berlari, Kau
mungkin lelah, putus asa, ingin menyerah
Kau mungkin menangis dan teriak pada
langit Pada Tuhan sang pemberi hidup
Kau mungkin melihat dari hati penuh tanya
“Tuhan, apa Kau mendengarku?”
*teruntuk cerita yang sudah jadi
prasasti, inilah mengapa mereka menyebut rindu itu pedih, rindu itu luka.
