“Hanya karena sebuah jarak yang memisahkan, bukan berarti jiwa kita kan memudar, bersama. Kau,
yang menghadirkan bintang di setiap malam dan purnama
ketika lewat senja. Kau, yang mengubah hariku menjadi seindah pelangi setelah
badai. Kau, yang menghilangkan dengungan lara yang sudah tertahan menahun
disini, di hati.
“Kugenggam
pasir yang terhampar di pantai ini. Kugenggam dengan keras tapi dia lari dari
sela-sela jariku lalu kucoba kugenggam dengan jari yang melentur, dia malah
betah berdiam dengan santai seolah tak rindu laut. Ketika langit sudah menjadi
orange kemerahan, kusadari aku sudah terlalu lama menunggu. Menunggumu seolah kau
kan kembali tapi entah kapan kau kembali. Aku dibingungkan dengan suara camar,
otak ku berputar karena suara ombak. Semilir angin menghakimiku dengan terpaan
halus yang menyakitkan, rindu ini menyakitkan dan kau tahu itu. kapankah kau
berkenan pulang? Haruskah kutanya pada rumput yang bergoyang.
“Sepertinya
kau sudah terlalu betah disana, apa kau tak ingin pulang, padaku?” tanyaku
suatu hari lewat telepon
“Aku akan
pulang, ketika aku sudah ingin pulang”
“Tak
berartikah diriku untukmu, kasih? Tak rindukah kau padaku?”
“Aku akan
jadi pembohong bila ku katakan aku tak rindu padamu, tapi aku belum siap
pulang. Masih banyak yang harus kucari disini. Aku akan pulang. Suatu hati
nanti. Tunggu aku disana.”
***
“Berjalan
menyusuri padang ini, teringat aku akan hadirmu yang dulu. Sentuhan jarimu yang
lembut menenangkan sanubari. Senyum yang merekah menghidupkan kembali hidupku
yang menjadi kelam karena senja hidup yang selalu menerpa. Dan sesudah kau
pergi, seolah semua asa dan lara ini berpulang ke tuannya, padaku. Terpaan yang
tiada habisnya, derita yang tak kunjung menjadi senja. Sesakit inikah tanpamu?
Aku butuh tangan mu untuk melegakan dada ini, menenagkan lara yang mengamuk ini.
Seandainya aku bukan pria aku akan menangis kencang dan merengek meminta kau
untuk pulang tapi aku hanyalah pria dengan ego dan gengsi yang merajai hati. Aku hanya bisa bertanya kapan kau kan pulang,
tapi aku tak bisa menyuruh kau untuk pulang.
“Senja demi
senja yang sudah berlalu dengan cepat. Ombak yang sudah lelah menghitung senja
yang berlalu dan aku yang semakin menua ditemani penantian yang tak kunjung
mendapat secercah cahaya di langit, di langit hatiku. Tapi, aku kan selalu
disini. Menantimu dan menanti sebuah bintang jatuh hingga aku bisa mengucap
harap pada sang langit. Harap kau cepat pulang dari rantau mu.
“Sejenak
aku memutar otak, apalagi yang kau cari disana? Masihkah kau mencari cinta
ketika sudah ada aku disini mematung menanti? Mungkinkah kau sudah mendua
bahkan mencari yang ketiga atau keempat? Tapi aku hanya bisa percaya.
Percaya bahwa kau setia. Percaya bahwa
hanya ada pria egois ini yang melekat di hatimu dan menemanimu kemana kakimu
menuju.
“Berjalan
menyusuri padang ini, lagi. Kini telah ada tangan yang bertaut dengan tanganku.
Senyum yang berbalas senyum, aku menyusuri padang ini lagi yang kali ini dengan
mu. Senyum dari bibir merah merona mu menjadi wujud terkabulnya harapku, di
dengarnya doaku oleh Pencipta mu. Kau sudah kembali, kembali ke rumah mu,
padaku dan temaniku menghabiskan memandang senja yang mulai ditelan lautan dari
ujung tebing yang sudah menjadi ujung penantianku.
“Bertahun
menunggu mu, menghabiskan umur hingga kepala tiga. Tua, yang mereka sebutkan
padaku namun selalu menjadi bahagia
ketika teringat, yang kutunggu adalah bidadari pembawa bahagia. Gadis kesayangan,
sang empunya hati yang selalu sendiri ini. Tapi, kali ini sepiku sudah menua
dan hampir mati karena hadirmu membawa berjuta cercah cahaya. Cahaya yang
membangunkan jiwa yang terlelap dan membawa aku kembali ke dunia nyata. Dunia
ku yang dulu, yang dipenuhi cinta.
Teriring
salam dariku
Pada sang
mentari di ujung samudera
Terima
kasih telah membawa bintang ku pulang
Dariku,
pujangga di ujung tebing penantian


