"Ada satu bagian dari diriku yang patah malam itu. Ketika apa yang begitu kumimpi dan begitu kudamba harus sirna saat aku begitu berharap, saat aku begitu bahagia. Terkadang aku bertanya, dari sekian juta manusia mengapa harus aku? Setelah sekian lama, ketika aku akhirnya berani membuka hati untuk rasa itu, mengapa di ujungnya harus ada yang retak dari ku? Lagi...
"Disaat yang sama aku hanya ingin mengutuk rasa itu, rasa yang membuatku seolah mampu merengkuh dia yang menjadi mimpi ku, dia yang menjadi rumah bagiku, namun diakhir seolah ditampar badai, aku tak hanya terhuyung tapi juga terlempar, terhempas ke jurang paling mematikan
"Teriakku hanya sampai telinga ku saja. Ya.. kupikir begitu, karna jika memang teriakan ku sekuat itu, kurasa pasti ada yang menolong ku, menarikku dari jurang itu. Tapi, kau lihat nyatanya... aku sekarat dalam menanti pertolongan, jiwaku berkarat termakan asam kangen, terasa sakit, pedih, dan perih dalam satu hentakan nafas.
"Dan jika memang ada kisah indah seperti yang mereka ceritakan itu, kubarap kau tak bosan menceritakannya padaku. Setidaknya biarlah mimpi ku indah Walau setiap hari aku harus berhadapan dengan yang namanya kenyataan yang menusuk pelan jiwaku dalam sekarat penantian ini. Kuharap kau tak bosan mencekoki ku dengan puisi romantis, baik itu Damono atau Chairil atau bahkan puisi cinta blak-blakannya Sujiwo Tejo. setidaknya, dengan itu aku masih punya harapan untuk mengejar apa yang pernah kusebut "segalanya"
"Mungkin aku terlihat menyedihkan, hahahaha.. tapi jangan kau tertawakan aku. biarlah aku yang menertawakan pesakitan ku, kehancuran ku, dan kenaifan rasaku. Karena jika kau ikut tertawa, pelan-pelan aku kan menangis tanpa seorang pun tahu. Jika ini adalah mimpi, temanku.. cepat-cepatlah bangunkan aku.. kau tahu seberapa lebar sobekan di jiwa ini. Kau tahu seberapa dalam luka ini menancap. Tapi jika ini bukan mimpi, pura-puralah kau tidak tahu.. pura-puralah seolah kau tak melihat luka ku, seolah kau tak melihat air mataku"
|| apa yang bisa kulakukan pada kisah mu teman, ketika kau menyuruhku berpura-pura tidak melihat luka mu, apa aku harus tersenyum? Apa aku harus tertawa? Atau.. apa aku bisa menangis bersama mu? Damono bilang cinta itu sederhana, ya... sesederhana kau yang terluka karena telah menggenggam duri mawar yang memilih cakar elang untuk membawanya jauh darimu. Sesederhana itu..
Oktober#AkuPuisi
