Satu Lekukan Rindu


Topik yang takkan pernah basi di telinga manusia adalah tentang rasa, debaran, desir dan getaran yang tiba entah darimana. kau dan aku bisa berdalih tapi tanpa bisa dikendalikan, hati akan menjawab dengan lantang dari dalam. Mereka menyebut itu naluri, satu-satunya kejujuran yang tertinggal dalam diri setiap manusia selain nurani. Manusia masing-masing punya rasa, sebagian dari mereka mengakui rasa itu dengan jantan dan lantang, bahkan ada yang buas, Namun ada juga yang lebih memilih memendam sendiri. Menatap dalam diam di temani lamunan, mengamati dalam bisu, merindukan dari jauh, dan mencintai dalam sepi tanpa siapapun yang tahu. 

Kita menyebutnya secret admirer, pengagum rahasia tapi pejuang cinta yang  jantan itu menyebutnya "kepengecutan". Hal yang hanya akan dilakukan seorang pecundang, tidak bisa mengakui rasa. Dan para pecundang-pecundang ini ada di sekitar kita. Bisa saja itu aku, kamu atau bahkan salah satu dari mereka. Ketika pejuang cinta mengakui cinta dengan suara, para pengagum dalam diam itu lebih sering berteriak dalam suratan, dalam syair lagu atau dalam apiknya puisi. 

"Semua orang adalah penyair ketika mereka mengenal cinta" semakin kesini, kita tau bahwa kutipan ini adalah kebenaran yang hakiki. dan kebanyakan, semakin lama cinta itu ditutupi maka semakin sendu puisi yang diguratkan itu. Maka, jika kau adalah salah satu pengagum itu, jangan kau malu disebut pecundang karena semestalah yang mencatat rindu mu dan puitisnya puisi mu. bukankah semesta itu hidup? terkadang mereka punya caranya sendiri untuk menghadirkan kejutan bagi manusia. dan inilah tanyaku? sudah seberapa banyak lembaran kertas yang kau coret dengan rindu? atau seberapa banyak notes dan memo di ponsel yang kau ketik terburu-buru dalam sepimu? 


        "mimpi adalah hal yang kugantungkan bersama mu di sudut bintang
            harapan yang kubenamkan dalam lautan permohonan
            berharap tangan mu kan menarikku
            membawa ku lari dari rindu"

mungkin kau menuliskannya begini, atau mungkin begini...

        "ketika biru berubah menjadi hitam
            ketika hijau berubah menjadi jingga
            dan ketika jingga berubah menjadi cokelat
            kau tahu aku masih disini
            menunggu dan berharap jejak ini tidak menjadi prasasti
            berharap debu tidak menghinggap terlalu lama
            dan kuharap kau berbalik
            karena bayangan ini menarikku semakin dalam
            dalam gunungan debu yang menutupi raga ku 
            membuat mu tidak menyadari ku ada
            meskipun aku di sisi mu"


Oktober #AkuPuisi