Cinta ini membuatku rakus dan serakah oleh rasaku sendiri
dan kuharap kau tak tahu itu. Kau tahu aku hampir gila dipagut sunyi-sepi
sepanjang hari memikirkan sejarah cinta yang kupunya. Siapakah kamu? Mengapa kamu
berani membuat diri ini gila karena terpaan dari senyummu di pelupuk mataku?
Semakin hari aku semakin tamak. Naluriku terpenjara di
jurang terdalam atas nama cinta. Kau tahu, aku menderita. Aku semakin serakah
dengan mengatakan pada langit bahwa kau adalah milikku. Bahwa kuteriaki hujan,
berkata bahwa jejakmu adalah peta ku. Bahwa kusahuti awan, berkata bayangmu
adalah jiwaku. Namun ini serakah apa? Ini rakus apa?
Ku lari mengejar bayang mu di bawah terik sinar
mentari yang semakin menyengat namun enggan menyapaku. Namun bukan hanya kau,
tapi juga bayangmu sudah mulai memudar dari peta jalanku. Kususuri jalan
berbatu itu lagi, tapi wajah kelam yang kutemu lewat gurat retak kerikil tajam
itu. Kau menghilang…
Namun, inikah tamak itu? Inikah serakah itu? Jika aku bahkan tak bisa menggenggam pudar langkah mu di depan ku. Jika aku bahkan tak
dapat meneriakkan nama mu pada bintang, jika aku bahkan tak mampu merengkuh
pudar bayangmu di sela lengan ku. Inikah tamak itu? Bila menatap
matamu dan berkata “aku suka” saja aku tak mampu…
Jika bibir tak sanggup lagi memintal kata, Biarlah mata yang berbicara sesungguhnya. Cinta tak hanya rumus kata-kata, karena cinta juga membuat lidah kelu berkata, Hati bergetar dan jantung kehilangan irama. Maka kan kutatap kau dengan cinta, biar hatimu yang memaknai. Karena jika hati ku sesungguhnya cinta, maka mataku pun akan berkata itu juga
