Dua musim bergulir melewati baris waktu
tanpa permisi, tanpa kata, tanpa pamit, kau pergi membawa senyum manismu dari
hafal senja ku akan mu. Kau pergi menghilang, melarikan senyum mu dariku
bersama cinta yang kau puja dan kau rengkuh di sela jemari mu.
Inilah sakitku, ketika kau pergi dengan
senyum berselimut cinta yang meninggalkan perih luka di hati. Tapi bagaimana kau
bisa tahu, bila menatap matamu saja aku bagai mencoba menatap mentari di terik
siang. Cinta… salahkan aku mencinta? salahkah aku bila bungkam? Salahkah
bila aku diam? Salahkah bila aku hanya sesosok yang bahagia melihat tawamu,
menangis melihat sedih mu, dan bersorak melihat mu, meski semua kulakoni dalam
diam dan hening.
Jika rasa hanya bisa dituang dalam tanda
titik, akan kuhiasi setengah dunia ini dengan itu. Bisakah kau kutanya? Senyum
jenis apa yang kau lempar padaku itu? ku anggap tatap matamu menyirat
rasa senja padaku. Tapi senjalah yang membawamu padaku, hujan yang mengenalkan
tangan mu padaku lengan ku. Hujan yang melekatkan basah senyum mu di hatiku. Namun salahkah? Bila aku mengutuk senja itu juga karena dia membawamu pergi dariku, sirna memudar menuju malam?
