Dimana hari dimulai dengan mimpi, kuarungi waktu itu dengan kaki
yang bertumpu pada impian. Mataku terbuka, tapi hatiku masih dalam mimpiku. Biarlah
mimpi ini mengalir, bersama dengan rintik hujan di kaca nako angkutan
umum.
Bersama derap langkahku menuju kampus Ahh... mengapa tiba-tiba
panas hari ini??
***
Aku melangkahkan kaki ku sepulang dari kampus menuju tempat pemberhentian
angkutan umum. “panasnya hari ini”, desah batinku sembari tangan menyapu
butiran air asin itu dari pelipis ku. Seperti hari ini, hari-hari sebelumnya
juga mengalami cuaca yang ekstrem. Panas terik kemudian tiba-tiba mendung,
gerimis, maupun hujan lebat. Bila aku diizinkan mengutuk hari ini, maka akan
kulakukan.
Aku menaiki salah satu angkutan umum dan belum
beberapa menit, langit sudah mendung lagi seperti hari kemarin. Satu persatu bulir
tetesan hujan membasahi kaca jendela angkutan itu. Gerimis yang berakhir dengan
hujan lebat. Suasana yang menarik akal ku menuju imajinasi yang dalam.
Berangan, melamun sembari menatap hujan dan menikmati dingin, semua ini
membuatku terlena dalam buaian.Sebelum sampai di persimpangan gang menuju
rumah kos hujan masih deras, jadi kupakaikan mantel untuk menutupi tas ku,
kuberhentikan angkutan itu dan berlari menembus hujan. Butiran
hujan yang semakin deras itu menujum ubunku berirama.
Tubuh dan pakaian ku mulai basah, sepatu yang
dipenuhi air, aku mulai bermain-main menendang genangan, berlari di bawah hujan
dan sesekali merentangkan tangan menengadah ke langit menantang butiran-butiran
hujan yang deras menabrak tubuhku. Hingga tiba-tiba aku menabrak sesosok tubuh
jangkung. Aku terdiam, menatap punggungnya, seolah ada magnet yang menahan
kakiku untuk tidak berpindah. Dia membalikkan badannya, memandangku kemudian
menyunggingkan senyum di wajah hitam manisnya. Senyum termanis yang
pernah kulihat dari seorang laki-laki. Dia berkulit hitam manis, dan bertubuh
jangkung. “udah segede ini masih main hujan?” tanyanya padaku, yang
kemudian hanya kubalas dengan tatapan bingung. Lalu dia melambaikan tangan dan
melenggang pergi meninggalkan ku yang masih terpaku menatap punggungnya dari
kejauhan.
Aku tersadar dari lamunan, memandang sosok
laki-laki manis yang sudah berjalan di depanku, ada degup dan detak. Debaran
yang begitu kencang, apa aku sakit? Apa karena hujan? Apa ini? Rasa apa ini?
Bersama derap langkahku menuju kampus Ahh... mengapa tiba-tiba panas hari ini??
***
Aku melangkahkan kaki ku sepulang dari kampus menuju tempat pemberhentian angkutan umum. “panasnya hari ini”, desah batinku sembari tangan menyapu butiran air asin itu dari pelipis ku. Seperti hari ini, hari-hari sebelumnya juga mengalami cuaca yang ekstrem. Panas terik kemudian tiba-tiba mendung, gerimis, maupun hujan lebat. Bila aku diizinkan mengutuk hari ini, maka akan kulakukan.
