Oleh: Nena Ika Sitanggang
Rumput tetangga selalu lebih hijau, Negara lain selalu terlihat lebih baik dari negeri sendiri
Tak sadar, ungkapan yang bagai pedang bermata dua
Inilah yang mereka sebut sebagai negara
Ketika gonjang-ganjing bisa meruntuhkan tahta dan
kepemimpinan
Perkataan yang tidak bertanggung jawab-tidak
bermartabat
Inikah yang mereka sebut sebagai bangsa berahklak
Ketika akhlak sudah ditelan habis teknologi dan isu
modernisasi
Mengaku sebagai bangsa berdaulat namun perang politik
merajai dan terbawa budaya orang
Wanita yang bertingkah sebagai penghibur gratisan
Menjajakan harga diri dengan tebalnya make-up dan ginju yang seolah menjadi
status
Harta dan materi adalah penentu hidup, bikini dan rok
pendek adalah budaya masa kini
Tergerus kemana budaya sejati negara ini?
Malu menjadi Indonesia tapi enggan mengaku barat
Itukah namanya cinta tanah air?
Negeri ini adalah peniru, bagaimana tidak? Bagaimana
bisa?
Dari orang kaya sampai yang termiskin, harga diri
tidaklah lagi terjaga
Namun berani mengatakan “kita berbeda”, “kita
berbudaya”
Oh. Betapa malunya
Tapi siapa yang sadar? Gadget sudah menilap hati dan nurani
Barang elektronik yang seolah menjadi status dan
tingginya harga diri
Rumahku sudah tergerus riasan dunia yang menyilaukan
Yang seolah takkan pudar
Rumahku yang seolah sepi namun lalu-lalang manusia menyakitkan
mata
Indonesia ku tak lagi Lugu tak mau dibilang dungu
namun harga Gadget melebihi harga diri manusia
tak letihkah?
