Untuk yang Tercinta
Bagaimana bisa pudar senyum
mu dari ingatku, khayalku
Ketika sang mentari bahkan
mengukir namamu di langitku
Ketika hujan mendapat
torehmu dan menjadi pelangi dikesudahannya
Bagaimana mungkin kau kan
lekang
Ketika ombak tak berani
menghapus jejakmu dari pasir tempat pulangnya
Dan bagaimana mungkin aku
sanggup
Menghapus lekatmu, ketika
pelangi senja melukiskan sosokmu
Dan camar meneriakkan namamu
Bagaimana mungkin aku
sanggup menghapusmu dari otakku
Ketika fajar melengkingkan
jasa mu yang terngiang di otakku
Bagaimana mungkin Ibu? Saat
Hadirmu adalah fajar yang tak pernah berujung senja
Pelangi Hujan yang takkan
kunjung reda
Bagaimana mungkin bisa
kuhapus jejakmu dari bilik hatiku
Ketika saban hari rinduku mengaungkan
namamu
Aku hanya bertanya bagaimana
Sedang aku tak pernah
mendapat jawabnya
Sekiranya rindu ini harus
pulang
Pulang kerumahnya,
kepangkuan Ibu
Rangkaian sajak yang
kutorehkan
Hanya sebatas rangkaian kata
pengungkap asa
Asa yang ingin pulang-kepangkuan
ibu
Andai masih bisa
ditimanganmu
Sejenak lari dari keluh
kesahku
Namun bagaimana bisa? Ah..
imanjinasiku berandai
Kuharap Tuhan kan selalu
memelukmu
Ketika bahkan tangan ku tak
sanggup meraihmu
Wahai angin, sampaikan salam
ku
Kepada yang tercinta di
ujung lautan
Ibuku
