Dulu pada Kelak




Kan ada suatu hari, kelak, dimana kita sudah menghadap sudut bumi yang berbeda meski di bawah jumantara yang sama. Tangan dan kaki kita takkan lagi bersisian tapi bukan artinya hati dan jiwa kita tidak. mungkin suatu hari nanti kan kita sadari, bahwa bukan kita lagi yang bersebelahan, dan mungkin saja, orang lain sudah yang akan mengisi sisi itu, sisi ku, sedang kita berseberangan di antara pulau dan lautan. 

suatu hari, daku kan bertanya kau dimana, dan kau pun demikian. tapi, kau, kawanku, sobat ku menjalani hari-hari mengenaskan, hari-hari bahagia, hari-hari penuh kekonyolan dan kegilaan adalah yang kelak suatu hari nanti kan kusebut dengan "dulu". sisi ku pun mungkin kan di isi yang lain, tapi kenangan tentang segala kegilaan itu sudah kupatri di benak ,pun di langit. 

akhirnya, kemustahilan kusebut melupakan mu. Bagaimana mungkin adanya? ketika bahkan mayapada ini ikut mengejek kegilaan kita yang tak karuannya. kesendirian kita yang asik dan kekonyolan kita mengejek mereka-mereka yang "waras". Maka,  kusebut kau abadi, seturut segala kisah yang sudah kita ukir dengan kacau. Sampai berjumpa suatu hari, dimana kegilaan kita kan kita sebut "kegilaan masa muda".