Asa


Banyak hal yang tidak dapat dipahami dalam kehidupan ini. Begitulah adanya. Kau dan aku dijanjikan jalan yang tidak pernah jelas ujung rutenya. Hanya bisa me-reka, diikuti ribuan harap dan angan yang diharapkan 'tuk bisa jadi nyata. Jika saja hujan tidak tahu turunnya kapan, lalu bagaimana lagi dengan kehidupan yang begitu rumit ini? sejatinya tanya hanyalah jadi tanya. Segala yang pasti adalah ketidakpastian, dan itulah yang mereka sebut dengan kehidupan.

Seseorang berkata "di bawah kolong langit ini tidak ada yang baru" maka itu artinya, aku hanyalah pemeran selanjutnya dari peran yang sudah dimainkan ribuan kali. Aku ingin menyebutnya Parodi, peniruan berulang-ulang. Bedanya, parodi ku ini tidak mengandung jenaka. Hanya jalur ceritanya saja yang sama. Aku hanya akan menyebutnya parodi, karena terlalu kejam jika kusebut plagiasi pada diri sendiri. Namun, benarkah aku sedang berparodi? karena, jika benar ini sebuah parodi, tentu aku tidak perlu memikirkan waktu setelah hari ini. Tentu aku tidak akan perlu memikirkan esok hari "toh yang perlu kulakukan hanya mengulang, apa susahnya?" bukankah begitulah yang seharusnya? tapi apa nyatanya? khawatir, cemas dan penuh harap akan apa yang segera terjadi selanjutnya, itulah yang terjadi. Kadang berserah sepenuhnya pada waktu, dan pada takdir. Tetapi itu tidak akan berselang lama, karena setelah itu raga dan benak akan diporak-porandakan nyata. Segalanya ternyata tidak berjalan sesuai yang diperkirakan. Lalu berakhir dengan perasaan telah dipermainkan takdir dan kehidupan. Namun, bukankah takdir itu begitu pencemburu? dia terlalu cemburu jika manusia telah percaya sepenuhnya pada kehidupan. Takdir itu begitu iri, jika manusia terlalu percaya dengan kebaikan di hari esok. Padahal, bukankah dia yang menghadirkan temu dan kemuthlakan? segalanya tidak akan hadir jika dia tidak melahirkannya. Bukankah percaya pada kehidupan juga sama artinya dengan percaya pada takdir? lalu mengapa seolah mereka tidak sama? lalu mengapa seolah mereka memiliki kutub yang berbeda? 

Sejatinya ingin adalah ingin menjalani kehidupan ini tanpa putus asa. Biarlah sesuai dengan yang mereka katakan "waktu yang akan membawa segalanya" maka jadilah demikian. Biarlah takdir yang melahirkannya dan waktu yang membawanya padaku pada waktunya. Karena sepertinya, tugasku hanyalah menunggu dengan harapan yang tidak pupus. Maka akan kutunggu, datangnya. Hanya, kuharap tidak terlalu lama. Kuharap jejak ku tidak terlalu lama berpijak. Kuharap jajak ku tidak sampai tertutupi debu, agar aku tidak lupa jalan pulang hanya karena terlalu lama menunggu.