Elegi Senja

                                                                                                                





Di atas awan sana, dimana jaraknya sangat jauh dari bumi, terdapat satu kerajaan yang tidak terjamah mata manusia. Dari sanalah munculnya matahari, dan juga rumahnya bulan. Terkadang, ketika matahari ingin pulang dan bulan ingin melakukan tugasnya, mereka berpapasan. Moment itu yang kemudian dinamakan "gerhana" oleh manusia. Disana hanya ada kebahagiaan. Tidak ada kesedihan disana, karena memberikan kebahagiaan adalah tugas mereka dan kesedihan itu hanya ada di dunia manusia. Mereka, segala mahluk yang ada disana, matahari, bulan, awan, angin, pelangi, bahkan burung-burung surga yang hanya muncul tahunan sekali, mereka menjalankan tugasnya dengan gembira. Mereka semua disebut sebagai Penjaga Semesta.

Suatu saat, kebahagiaan yang lebih besar datang. Kelahiran seorang anggota kerajaan  baru, yang kemudian mereka namai "Senja". Senja itu begitu indah, dan membuat semua orang di dekatnya bahagia. Setiap hari, setelah selesai menjalankan kewajiban, penghuni kerajaan itu akan menjenguk senja bergantian. Lalu mereka akan kembali  dengan wajah berseri-seri, seolah sinar senja menyerap ke wajah mereka. Senja menyambut mereka dan mengantar mereka pulang dengan senyuman. Namun, dalam hati juga kerap dia bertanya-tanya, kemana kah penjaga semesta pergi setiap harinya? Namun dia tak kuasa bertanya. Karena pikirnya, suatu hari dia akan tahu dengan sendirinya.

Hari berganti hari, hingga bulan berganti bulan, tidak ada yang memberitahukan padanya dengan suka rela. Akhirnya dia menyerah, hati dan benaknya hampir tumpat karena penasaran. Dia memutuskan bertanya, lalu menghampiri sang matahari yang baru pulang dari melaksanakan tugasnya. Tentu, dengan senyuman yang melekat di wajahnya. Senja menyapa sang matahari, dan dibalas dengan hangat. Senja bertanya sang matahari  dari mana, "menjalankan kewajiban, menerangi bumi" jawabnya singkat. Senja nanar, "apa itu bumi?" matahari tertawa. Dia mengerti, senja belum mengerti apapun, termasuk tugas yang akan diembannya suatu hari. "Bumi, adalah planet tempat tinggal manusia dan beberapa mahluk lain. Jauh dibawah sana. Planet itu begitu gelap, jadi aku dan bulan bergantian meneranginya. Disana hidup manusia, sejenis mahluk yang sangat berbeda dari kita, dan mereka membutuhkan cahaya untuk hidup. Mereka berbeda dari kita. Kita bisa hidup tanpa mahluk lain, tapi mereka tidak bisa. Mereka membutuhkan kita." Senja mengangguk, tapi tidak sepenuhnya mengerti. "Jika kau ingin melihat bumi, kau bisa melihatnya dari gerbang timur" lanjut matahari lagi. Senja berlari tanpa babibu, dia duduk di dekat gerbang dan melihat ke bawah. Sekarang sudah gelap, hanya dibantu sinar bulan yang temaram. Bulan melihatnya dan menyapa, sedang apa senja disana. "Sedang melihat bumi dan manusia" jawab senja. Bulan mengangguk "tidak akan kelihatan sekarang, besok saja, ketika fajar atau siang. Sekarang sudah gelap, manusia sudah tidur" Senja mengangguk murung. "Tapi kenapa kau tidak pulang? bukankah mereka sudah tidur? itu artinya mereka tidak lagi butuh sinar, bukan?" bulan tersenyum. "Tugas ku tidak sama dengan tugas matahari. Matahari memberi mereka kehidupan, sedang aku menghadirkan harapan bagi malam mereka" jawabnya. "Aku tidak mengerti" rungut senja. "Nanti kau akan mengerti sendiri, besok pergilah bertanya pada awan, dia akan mengajarimu" Senja mengangguk lemah. Dia berjalan meninggalkan bulan yang masih menjalankan tugasnya.

Senja menunggu esok dengan tidak sabaran. Dia menunggu ketika matahari pergi menjalankan tugasnya, dengan wajah riang dia menatap ke bawah, ke bumi. Namun berselang beberapa lama, meski matahari sudah mengambil tempatnya, bumi masih kelihatan gelap. Manusia terlihat samar-samar di bawah sana. Senja kecewa, dia menemui bulan yang sedang istirahat di ruangannya lalu menceritakan yang baru saja dia alami. "Di bawah sana tetap gelap. Manusianya tidak terlalu kelihatan. Kau bilang padaku, kalau sudah pagi maka bumi akan terang.  Aku ingin menemui awan, tapi pelangi bilang, awan sedang  bertugas.” dia mengeluh. Bulan tersenyum “di bawah sana sedang hujan, jadi sinar mataharinya dihalangi awan yang sedang menjalankan tugasnya”. “Mengapa mereka melakukan itu bersamaan? Bukankah matahari bisa bertugas setelah awan selesai dengan tugasnya?” “Tentu tidak, bumi sedang membutuhkan hujan sekarang. Jika matahari tidak menjalankan tugasnya, bumi akan mengalami kesusahan. Sama saja jika itu terjadi di malam hari. Aku pun harus tetap bertugas, walaupun sedang hujan.” Senja mengangguk. “Oh iya, setelah ini, setelah hujan reda, pelangi akan bertugas juga. Kau tidak pernah melihatnya sebelumnya bukan?” Senja mengangguk. “Sinarnya indah sekali, kau harus melihatnya. Cepat, pergilah ke gerbang timur” Senja berlari dengan sorot mata penasaran. Dia penasaran, bagaimana indahnya sinar pelangi. Dan dia juga bertanya-tanya, mengapa pelangi harus bertugas setelah hujan turun.

Senja terkagum-kagum dengan sinar pelangi yang dilihatnya. Indah sekali, warna-warnanya begitu beragam. Senja memperhatikan awan pelan-pelan meninggalkan tempat dan kembali ke kerajaan. Sedang matahari mulai bersinar lagi, menerangi bumi. Dia terkagum, bumi begitu indah. Awan melihat senja yang sedang terkagum. “Indah bukan?” ucapnya, sambil berdiri di sebelah senja. Senja hanya mengangguk penuh semangat “yang warna biru itu apa?” tunjuknya ke arah bumi “itu lautan, isinya air yang sangat banyak” senja mengangguk paham. “Yang hijau itu?” tunjuknya lagi “itu hutan, isinya pepohonan dan tanaman, sumber oksigen–sumber kehidupan manusia dan mahluk bumi lain” senja mengangguk lagi,” “mengapa hutannya sedikit?” “karena manusia menebang pohon untuk mereka pakai untuk hidup. Juga sebagai tempat tinggal.” “lalu manusia tinggal dimana?”  “mereka tinggal di bangunan-bangun yang ada di bawah sana, mereka juga bekerja disana” “wah.. besar ya.. apa mereka juga bekerja seperti kalian? Untuk mahluk lain?” “tidak, mereka bekerja untuk diri mereka sendiri” mendengar itu, senja menjadi bingung “bukankah itu tidak adil? Kalian bekerja untuk mereka? Tapi mereka malah  bekerja untuk diri mereka sendiri” Awan menjelaskan, begitulah cara kehidupan bekerja, tidak semua mahluk memiliki tugas dan kewajiban yang sama. Senja juga bertanya tentang mahluk lain yang ada di bumi. Awan mengatakan bahwa terdapat hewan yang beragam dsana. Mahluk yang dibutuhkan manusia untuk hidup selain pepohonan dan tanaman. Senja mengangguk paham, tapi kemudian sedikit terkejut melihat adanya bagian yang hitam. Awan menjelaskan bahwa itu adalah laut yang dikotori manusia dengan sampah dan limbah. Juga terdapat bagian hutan yang hangus dan ada yang terbakar, awan mengatakan bahwa itu adalah ulah manusia yang tidak menjaga alam. Senja pun pelan-pelan mengerti mahluk seperti apa manusia itu. Mahluk yang membutuhkan mahluk yang lain namun mereka bekerja untuk diri mereka sendiri, bahkan merusak alam. Semalaman dia berpikir, apakah tugasnya nanti juga akan memberikan kehidupan bagi manusia? Namun dia juga bingung, tugas seperti apa sepenuhnya yang dimiliki penjaga semesta lainnya.

Esok harinya senja menemui awan. Dia ingin menanyakan perihal tugas-tugas penjaga semesta. Awan menjelaskan, tugas matahari adalah memberi cahaya bagi manusia dan mahluk lain yang ada di bumi. Tugas awan adalah menurunkan hujan, dan anginlah yang menyebarkannya. Sedangkan tugas bulan adalah menerangi malam, dan pelangi bertugas untuk  muncul setelah turun hujan. Tugas bulan dan pelangi sebenarnya agar manusia tidak kehilangan harapan dalam hidup mereka. “Hewan-hewan dan tanaman itu, apakah mereka sama seperti kita?” tanya senja. “Ada persamaannya dan ada perbedaannya. Kita memberikan kekuatan kita pada manusia. Sedangkan mahluk-mahluk itu memberikan nyawanya bagi manusia” senja mengangguk sedih. Wajahnya murung. Awan menyadari itu dan dia bertanya mengapa. “Mengapa manusia harus membutuhkan mahluk lain, sedang mereka tidak memberikan apapun untuk mahluk lain. Mereka menebang pohon, membunuh hewan dan tanaman. Mengotori laut, membakar hutan, bukankah mereka hidup dari itu semua? Lalu mengapa mereka bertindak seolah tidak membutuhkan mahluk lain? Padahal mahluk lainlah yang tidak membutuhkan mereka” gerutunya. “Mereka hanya sedang tidak sadar, mereka menganggap semua itu akan bertahan tanpa campur tangan mereka. Padahal mereka tidak sadar, mereka hanya sedang menghancurkan diri mereka sendiri” ujar awan, senja mengangguk setuju. “Aku belum tahu apa yang seharusnya menjadi tugas ku, tetapi apapun tugas ku nanti, jika itu berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia, aku tidak akan mau menjalankannya” ucapnya tegas lalu meninggalkan awan dengan wajah murungnya. Awan tersenyum kecut, senja seharusnya memerikan waktu baginya untuk menjelaskan lebih lanjut. Tetapi dalam hati awan yakin, senja akan mengerti nantinya.

Esoknya, senja melangkahkan kakinya gontai ke ruangan penjaga kerajaan, sang Waktu. Pelangi memberitahukannya, bahwa sang waktu meminta senja datang ke ruangannya. Dalam langkahnya dia nanar, juga lesu, kehilangan semangat. Sesampainya di ruangan sang waktu, dia tersenyum setengah terpaksa pada sosok yang ada di depannya dan bertanya ada apa. “Sudah waktunya kau mengetahui tugas mu, dan hari ini, aku memanggil mu untuk memberitahukan mu itu” Tukas sang waktu. “Apa tugas itu berhubungan dengan kehidupan manusia?” tanyanya mendelik. “Ya, tentu saja.” Senja mendengus, dia tidak ingin melakukan apapun pada mahluk egois itu, apalagi menolong mereka. Namun dia juga tidak kuasa membuat sang waktu kecewa, jadi dia mendengarkan apa yang kira-kira akan menjadi tugasnya. Tugas senja adalah muncul setelah matahari pulang ke istana dan sebelum bulan bertugas menyinari malam. Singkatnya, dia bertugas di antara jadwal matahari dan bulan. Tugasnya bisa dikatakan mirip dengan tugas pelangi, yang muncul setelah hujan turun. Sang waktu menyadari kemurungan senja, sehingga dia menanyakannya. Namun, senja hanya terdiam. “Kemurungan mu ini, apakah karena kau merasa tugas mu terlalu berat?” tanya sang waktu. Senja menggeleng ragu. “Aku tidak tahu, bulan dan awan sudah menjelaskan padaku tentang tugas-tugas penghuni kerajaan, dan juga tentang bumi dan manusia. Jujur saja, aku begitu bingung. Manusia itu begitu jahat, tapi mengapa kita harus menolong mereka. Bahkan hewan-hewan dan tanaman pun harus mati demi mereka. Matahari, bulan dan yang lainnya bergantian bertugas sepanjang waktu. Tapi satu-satunya yang dilakukan manusia adalah menghancurkan dan membunuh. Aku hanya tidak mengerti.” Sang waktu mengangguk paham. Dia sudah pernah mendengar ini sebelumnya. 

“Apakah kamu tahu, siapa yang lahir sebelum kamu?” sang waktu bertanya, senja menjawabnya dengan gelengan kepala. “Baiklah, sepertinya aku harus bercerita sedikit. Penjaga semesta yang lahir sebelum kau adalah pelangi. Sang takdir melahirkannya atas permohonan matahari, awan dan angin.” Senja menyimak dengan tatapan bertanya-tanya. “Karena,” sang waktu melanjutkan “karena menurut mereka manusia membutuhkan itu. Manusia membutuhkan hal yang mengajarkan mereka bahwa setelah badai paling dahsyat pun, selalu akan ada kebahagiaan. Itulah mengapa, pelangi diciptakan dengan warnanya yang beragam dan indah. Kau juga mengakui itu bukan?” senja mengangguk. Pelangi juga mengatakan hal yang sama waktu itu, mirip dengan yang kau katakan sekarang.” “dan kamu,” senja mengangkat dagunya “kamu hadir atas permohonan matahari, bulan, awan, angin dan pelangi. Singkatnya, kamu lahir karena permohonan semua penjaga semesta. Itulah mengapa kamu akan bertugas di sela waktu matahari dan bulan, kamu akan berwarna seperti matahari namun sangat indah seperti pelangi. Kamu akan membuat awan terlukis dengan indah, dan bersama angin, kalian akan menghadirkan penghujung hari yang begitu menyejukkan” senja merenung, “tapi, untuk apa?” “tentunya untuk manusia dan semua mahluk yang ada di semesta ini.” “tapi mengapa untuk manusia? Manusia itu serakah, mereka jahat, dan selalu menghancurkan semesta ini.” Sang waktu menghela napas, “ikuti aku” ucapnya simpul. Senja mengikuti langkahnya, sang waktu membawa senja mengelilingi kerajaan sambil menunjukkan bumi yang ada di bawah sana. Senja memperhatikan dengan tidak semangat. Namun, tak berselang lama dia tertegun akan sesuatu yang ditunjuk sang waktu. Disana terdapat manusia-manusia sedang menjaring sampah di laut.. Senja terdiam, mengamati. Lalu dengan pelan dia berujar “bukankah mereka itu manusia?” sang waktu mengangguk. Lalu sang waktu menunjuk tempat yang lain, agak jauh dari sebelumnya terdapat puluhan manusia yang sedang menanam pohon bakau di tepi laut dan di lahan gambut. Senja semakin bertanya-tanya. Sang waktu menunjuk lagi, kali ini terdapat banyak laki-laki yang sedang mencoba memadamkan api di hutan. Lalu di tempat yang lain, beberapa manusia sedang mengobati binatang yang terluka. Lalu di tempat yang lain, sang waktu menunjuk seorang gadis yang sedang menangis karena gajah yang dia rawat selama ini di penangkaran telah mati, dan di tempat yang lain terdapat puluhan manusia yang sedang melepas penyu ke alam bebas. Senja itu kebingungan. “Bukankah mereka semua ini manusia?” tanyanya dengan tidak sabaran, butuh penjelasan. Sang waktu mengangguk. “Mereka semua ini manusia. Mereka sama seperti manusia yang kau lihat sebelumnya. Tapi tidak sepenuhnya sama. Kau mengatakan mereka jahat dan serakah, iya, namun tidak semuanya. Manusia yang jahat itu adalah manusia yang tidak sadar bahwa mereka sangat membutuhkan alam dan mahluk lain. Sedang mereka yang sadar ini, mereka yang sedang  mencoba menyelamatkan alam ini, kita harus menolong mereka. Kita harus menyemangati mereka. Kehadiran mu di hari-hari mereka, akan menambah harapan mereka dan membuat mereka semakin bersemangat untuk menyelamatkan semesta, agar mereka tidak merasa sendirian. Kehadiran mu, adalah harapan kami, seluruh penjaga semesta agar manusia-manusia seperti mereka semakin bertambah banyak setiap waktu. Sehingga manusia semakin sadar dan mau bahu-membahu menyelamatkan semesta ini” Jelas sang waktu. Senja terdiam, memikirkan banyak hal. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan?” tanyanya kemudian, sang waktu tersenyum bahagia “yang harus kau lakukan adalah menjalankan tugas mu mulai besok, dengan senyum yang lebar, dan bersinarlah sebagai senja yang indah, dan penuhilah jiwa mereka dengan harapan.” Senja tersenyum lebar, lalu mengangguk. Dia mengakhiri harinya dengan tekad yang bulat, dia akan bersinar dengan indah untuk semesta dan mahluk-mahluknya.

Esoknya, setelah tugas matahari selesai, senja segera meluncur untuk melakukan tugasnya. Ditemani awan dan angin. Disaksikan penjaga semesta dan sang waktu, penghujung hari itu menjadi awal penghujung hari yang indah. Awan yang keemasan, langit yang begitu memesona dan angin yang begitu sejuk memenuhi hati manusia dan segala mahluk di semesta dengan harapan akan datangnya yang baik esok hari. Senja memperhatikan bumi dan segala mahluknya, manusia-manusia  itu tertawa bahagia, mereka melompat girang dan bersuka-cita karena terpesona. Hal itu membuat senja tersenyum lebar. Disaat itulah dia sadar, inilah mengapa para penjaga semesta yang lain selalu bergembira dan bersemangat melakukan tugas mereka. Karena sejahat apapun manusia, masih ada manusia lain yang berusaha menyelamatkan planet ini. Maka senja bertekad, bahwa dia akan terus bersinar untuk memberikan manusia-manusia baik ini harapan setiap hari. Sehingga akan semakin banyak manusia yang sadar dengan alam, dan berusaha untuk menyelamatkan alam ini bersama-sama dan bukan menghancurkannya.


Always choose to save the planet. This planet not give you some wifi or internet but gives you life and place to live. This story is about the problems facing the world this days. The sun and the moon doesn't forget to shine, so why we do forget to live in the right way? if rainbow always comes when rains over, so why we lose our hope, destroy everything as if there's no tomorrow? Always remember what humanitarian activists say "choose the planet!" "Choose to save the planet!" This planet doesn't need humans, humans does!