Kehidupan ini memiliki banyak liku yang kebanyakan tidak dipahami manusia. Manusia itu hanya berhak memimpi dan berangan namun tidak memiliki kuasa untuk menjadikannya nyata tanpa se-izin Pemilik hidup. Jalan yang kita tidak tahu ujungnya ini, kita sebut takdir dan lahannya kita sebut kehidupan. Disinilah kita bermain-main dan terkadang dipermainkan tanpa sepengetahuan kita. Disini juga kita berjudi dengan sang penjaga takdir, bertaruh akan bagaimana besok jadinya.
Manusia memiliki mimpi dan cita-cita. Semua manusia punya, karena manusia adalah mahluk yang diciptakan demikian adanya. Berlomba dan bersaing sambil mengarungi kehidupan yang kita tidak tahu kapan berhentinya. Meraih mimpi itu, kita menyebutnya perjuangan. Bersaing satu sama lain, mencoba mengalahkan yang lain untuk meraih impian. Larilah sekuatmu, julurkan tangan mu hingga hampir patah, itulah perjuangan. Menang, itu artinya kau pejuang. Kalah, itu artinya kau pecundang. Stigma yang sudah mendarah daging. Perlombaan yang sudah diguratkan di nadi sejak belia. Untuk hidup, kau harus begini, kau harus begitu. Tidak boleh begini dan tidak boleh begitu.
Lantanglah ketika berbicara, tatap mata lawan mu dengan berani. Diam artinya kau payah, menunduk artinya kau lemah. Tegapkan badan, milikilah mental baja. Jangan jadi pendiam, kau takkan dapat apa-apa jika demikian. Orang lain bisa menang, itu artinya kau juga bisa menang. Orang lain bisa mendaki gunung, kau juga harus bisa. Orang lain bisa berlari kencang, kau juga bisa. Kau bisa, kau hanya kurang berusaha. Standar dan ukuran yang disamakan. Setiap orang sama dengan yang lainnya. Penilaian yang dipatok segaris. Menang itu adalah ini dan bukan itu. Gagal itu adalah itu dan bukan ini. Kau menang itu artinya kau sukses. Kau akan berhenti mendengar standar ini, hanya ketika kau mati.
Kita hidup di dunia, dan di zaman dimana usaha dipatokkan hanya untuk kemenangan dan kesuksesan. Tidak ada lagi selain itu. Selain itu adalah kebodohan. Banyak mimpi dan angan yang kadang berusaha ditumpas bahkan sebelum bertunas oleh pihak yang merasa bahwa mimpi itu berbahaya bagi diri si-pemimpi. Dan kita, selaku pemilik mimpi ujung-ujungnya dihadapkan dengan rasa bersalah. Bersalah karena telah bermimpi dan memiliki angan. Tidak ada yang berkata, "coba lihat ke langit. Awan-awan begitu bebas menjelajahi jumantara, maka jadilah demikian." Yang ada adalah "lihat ke jalan sana. Jika kau tak berusaha, maka kau kan jadi seperti mereka." Inilah sejatinya kehidupan menurut standar manusia. Berbeda, itu artinya memilih jalan yang sukar. Setiap orang menyadari itu, hingga akhirnya lebih memilih untuk jadi sama. Maka pilihlah, pilihlah mana yang ingin kau jalani. Hanya saja, kehidupan tidak pernah semudah membuat pilihan, tetapi juga harus menjalani rute dari pilihan itu. Pilihlah salah satu, lalu tanggunglah resiko yang datang menghampiri jalan mu. Tanggunglah sesuai yang seharusnya. Kehidupan ini singkat, kata mereka. Maka jalanilah tanpa ikut berparodi. Parodi manusia tidak akan pernah abadi, yang abadi adalah impian mu. Setidaknya, ketika kehidupan berhenti bernapas, impian mu sudah melekat di jiwa. Tidak lagi mengawang-awang di angkasa.
9 November 2018
