Meragukan Sunyi

Aku hidup bagaikan kau di dunia yang begitu luas ini. Aku menjalani kehidupan dengan membawa pikiran dan hatiku. Seperti yang selalu kau lakukan. Aku adalah kau walaupun kau bukahlah aku. Kau mengatakan kita berbeda, aku tidak menerima itu. Sebab, bagaimana mungkin bisa kita berbeda, sedang kita dilahirkan dari satu hal yang sama? Kita lahir dari satu rahim, lalu bagaimana bisa aku mengatakan kita berbeda?

Aku bercurah asa tentang kehidupan ini pada sunyi. Kau kerap berkata, aku seharusnya bercerita, yang lalu kubalas dengan tawa. Kataku, “tidak ada yang harus kukatakan”. Kau pun menggeleng, kau mengeluhkan diriku yang terlalu merahasiakan segalanya. Kali ini hanya kubalas dengan senyuman, memandangi mu saja yang beringsut perlahan. Lalu aku tenggelam dalam riuh benak ku sendiri, penuh dengan tanya “benarkah demikian?” Begitu sulit untuk memahami perkataan itu. Aku nanar hanya karena satu kalimat. Aku tidak ingin begini tentunya, lalu kuambil secarik kertas dari laci, menuliskan isi otak ku, lalu kuremukkan kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah. Aku bernapas lega, tersenyum semampu ku.

Hari ini kau pergi lagi. Kau berkata ingin ke gunung bersama teman-teman mu. Ku iyakan saja, tentu aku tidak akan bisa melarang mu. Aku tidak memiliki hak untuk itu. Ku lambaikan tangan ku hingga kau menghilang dari jangkauan mata ku, seturut harap dalam hati akan keselamatan mu. Tengah malam kau menelepon ku, seperti yang biasa kau lakukan, memamerkan hal-hal indah yang kau dapat. Dan malam ini kau pamer lagi. Kau bilang di puncak gunung itu dingin dan sejuk, seolah ingin terbang dibuatnya. Aku tersenyum, lalu mengejek mu yang selalu pamer. Kau tertawa sembari berkata “harusnya kau ikut, ini menakjubkan.” Aku menggeleng, meski aku tahu kau tak melihat gelengan kepala ku. Beberapa menit kemudian, aku sudah sibuk lagi dengan kegiatan ku sebelumnya, berbicara pada bulan. Bercerita tentang segalanya yang belakangan ini terjadi dalam kehidupan ku. Aku tidak ingin memberitahu mu itu. Sebab, kau pasti menertawakan ku lalu menyebut ku gila karena berbicara dengan bulan. Kau selalu berkata bahwa bulan hanya benda langit yang bercahaya bukannya psikolog yang bisa diajak  konseling. Seringkali kau kudiamkan saja dengan ucapan itu. Dalam hatiku “kau hanya tidak tahu.” Ya, kau hanya tidak tahu betapa leganya hati setelah bercerita dengan bulan. Aku tidak mengatakan itu, sebab aku tidak ingin ditertawakan lagi, untuk kesekian kali.



Kau kerap berkata “pergilah keluar sekali-sekali. Temui orang-orang, walau hanya sekedar mengobrol.” Aku menggeleng “aku tidak butuh siapapun” kataku. “Kau jelas punya masalah. Terbukalah sekali-sekali, itu tidak salah. Jika kau tidak bisa bercerita padaku, kau bisa bercerita pada yang lain, temanmu” katamu lagi. Kali ini pun aku menggeleng. Sekilas teringat akan masa-masa dulu. Di masa, dimana aku masih percaya dengan kesetiaan manusia dan semua perkataan mereka. Aku bercerita dengan gamblang tanpa gamang. Namun, di satu waktu aku berhenti ketika aku menyadari bahwa mereka tidak pernah mengerti dengan segala yang kualami. Mereka hanya mendengar, namun tidak mengerti. Lalu satu-persatu mereka meninggalkan ku. Aku tak apa. Mereka meninggalkan ku, dan kepercayaan ku meninggalkan mereka. Sayangnya, bukan hanya mereka yang tidak kupercayai lagi, tapi turut semua yang bernama “manusia.” Sadar ku, mungkin sejatinya yang benar adalah perkataan Anne Frank di buku hariannya “Kertaslah yang lebih sabar dari manusia.” Lalu aku meyakini itu, hingga kini, mungkin juga untuk selamanya.

Awalnya sulit, aku mengakui itu. Ditinggalkan dalam perasaan terluka, itu menghancurkan jiwa. Namun pelan-pelan ku tegakkan punggung ku dengan niat, kali ini aku harus lebih berani menghadapi hidup. Aku tidak membutuhkan  manusia, dan tidak ingin membutuhkan mereka. Pada kertas aku mempercayakan segala isi hati dan benak. Sejak hari itu, aksara jadi media ku menumpah depresi. Kurasakan kebebasan akal dan benak ku, lalu aku menjadikan ini duniaku. Dunia sunyi, dunia yang tenang.


Satu hal yang tidak bisa kuhindari adalah ketika itu turut berlaku padamu. Sunyi dan diam itu menelan jiwa ku hingga akhirnya aku merasa tidak membutuhkan bantuan, bantuan mu. Sore itu kau pulang. Wajah mu berseri, merona bahagia. Kau terlihat begitu lepas, begitu bebas, dan hidup. Hal itu buatku terdiam. Kau adalah saudara ku, kita tidak berbeda, begitulah yang kupikirkan sebelumnya. Namun, tidak dengan kini. Sekarang aku mempertanyakan “sama” yang kukatakan padamu dahulu, bahkan kini aku meragukannya. Meragukan keyakinan yang selama ini kumiliki. Kau begitu hidup, kau bebas dan bahagia. Sedang aku harus butuh tenaga bahkan hanya untuk sekedar bercengkrama dengan manusia. Lalu aku mulai meragukan sunyi dan tenang itu.  Kini, aku ingin seperti mu. Aku ingin merasakan hidup itu lagi.  Setidaknya, aku ingin benar-benar hidup sebelum aku benar-benar mati.