Masa Tanpa Elegi




Hari itu hujan, semakin sore semakin deras. Aku berdiri di lorong bangunan yang tidak terpakai, menunggu hujan reda. Dua jam berlalu dan lorong itu kini terisi orang-orang yang ingin berteduh dari hujan. Di sela hujan itu, di sela waktu menunggu itu, aku bertemu dengannya. Gadis kecil pemimpi, gadis yang membawa angan terjun bebas ke dunia nyata. Dia berteduh disana dengan ayahnya, seorang pria paruh baya yang memutuskan berhenti dan berteduh dari hujan yang kian deras. Namun gadis kecil itu tidak menyukainya. Dia adalah sejatinya anak kecil yang mencintai hujan. Gadis kecil itu menolak untuk mengikuti ayahnya beringsut ke lorong, dia ingin menikmati hujan sore itu sepuasnya namun sang ayah melarangnya. Ya, kau pasti tahu, orangtua selalu memikirkan setidaknya kesehatan anaknya. Gadis kecil itu sekali-sekali menjulurkan tangan merasakan butiran hujan menujum tangannya, sekali-sekali mencuri-curi kesempatan untuk berlari ke luar lorong, lalu menengadah ke langit lalu kembali ke sisi ayahnya dengan wajah merona dan tawa riangnya.

Hujan, banyak menghadirkan hal yang hanya dapat dihadirkannya seorang, yaitu angan terdalam dan juga kenangan yang sudah terkubur sangat dalam di 'nubari. Itulah mengapa kita banyak menikmati sepi ketika hujan, karena hati dan pikiranlah yang tengah riuh-riuhnya, ramai oleh kenangan dan orang-orang yang kebanyakan sudah tidak bisa kita temui lagi kini. Masa kecil adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari hujan. Hujan ternyata tidak hanya membuat genangan air, dahsyatnya bisa membuat seseorang tenggelam dalam kenangan lalu penuh dengan kebahagiaan dan tentunya, kerinduan. Gadis kecil itu membuat ku kembali ke masa itu. Lalu aku tersenyum simpul, menghela napas panjang, ah... aku merindu.

Tumbuh dewasa itu artinya semakin banyak tuntutan untuk menjadi ‘dewasa’ dan setiap orang mengartikan kata itu berbeda tergantung persepsi mereka. Dewasa itu artinya tidak lagi kekanak-kanakan, itulah versi sebagian orang. Versi yang lain, dewasa adalah dimana kau semakin tua dan semakin bijaksana. Entahlah, apakah itu dewasa aku tidak jelas tahu maknanya. Namun, label dewasa itulah yang tidak disadari merajam angan dan kebebasan dengan kejamnya. Ada rasa bangga terselip ketika seorang pribadi disebut dewasa, namun banyak hal yang direnggut dari setiap insan oleh label dewasa itu. Dewasa, itu artinya hidup harus penuh aturan, penuh resiko, penuh beban dan tanggungjawab. Hingga, kita seringkali lupa bahwa sejatinya yang kita butuhkan adalah terbang bebas menjelajah dunia dengan segala yang kita miliki di raga. Tapi bukankah itu yang disebut kekanak-kanakan?



Masa itu, di masa belia, kita berlari dengan tawa bebas tanpa beban. Menikmati kehidupan dari jendela kecil, mata seorang insan muda yang masih baru menjelajahi kehidupan. Kau mau tertawa, tertawalah. Kau mau menangis, menangislah. Kau mau berlari, berlarilah. Panjatlah segala yang ingin kau panjat. Renangilah segala yang ingin kau renangi. Berlarilah di bawah hujan, bermain lumpur dan pasir, bermain air hujan hingga kulit membiru dan tubuh menggigil kedinginan. Bebas. Tidak apa-apa jika terjatuh, terjerembab sekalipun, itu hanya membuat luka. Hanya membuat goresan di kulit kaki, tangan dan siku meskipun disertai tangis yang membahana yang keluar dengan begitu luwesnya. Bebas. Tapi ketika usia sudah menapaki jalan menuju matahari, luka dan jatuh tidak lagi disebut seyogianya dulu. Jatuh dan luka itu akhirnya dilabeli dengan ‘gagal’. Dilabeli dengan ‘ketidakbecusan’. Dilabeli dengan makian, hinaan dan ejekan. Tidak ada lagi kata “itu hanya luka kecil” “tidak apa-apa” tapi kata yang menusuk  hingga relung jiwa “begitu saja kau tidak bisa.”

Gadis kecil itu mengingatkan ku pada banyak hal, dan kurasa tidak hanya aku tetapi juga puluhan ‘orang dewasa’ yang kala itu tengah berdiri di bawah atap yang sama kala hujan sore itu. Senyum-senyum yang terbit itu adalah senyum-senyum terkenang. Senyum akan kenangan yang berlari-lari bebas di pikiran. Senyum kerinduan, yang mendayu deru dalam hati yang menuntut untuk kembali. Namun dapatkah itu terjadi? Usia belia kala itu, kita tidak mengenal yang namanya resiko. Kita tidak mengenal apa itu kegagalan, yang sepenuhnya dilakukan adalah bersenang-senang. Seutuhnya yang dipikirkan adalah kebahagiaan atau perih karena terluka akibat jatuh dari sepeda atau dari pohon. Bukan tentang gagal, dan segala label kehidupan. Tidak menuntut apapun, hanya bersenang-senang dan menikmati momen dan segala yang terjadi di saat itu.  Namun, bukankah itu yang menjadi tantangan tersulit bagi ‘orang dewasa’? kita tidak lagi seberani yang dulu berlari di bawah hujan. Tidak lagi berani memanjat pohon. Tidak lagi berani bahkan hanya untuk sekedar bersenang-senang dan hidup tanpa memikirkan resiko hanya karena takut dilabeli dengan kata “tidak dewasa” atau “kekanak-kanakan” dan sebutan-sebutan lain oleh orang lain. Bukankah kau semakin merindukan masa kecil itu?


Kau tidak perlu menjadi naif untuk menikmati hidup. Gadis kecil itu mengingatkan ku pada diriku yang dahulu, yang begitu bebas dan lepas. Yang tidak takut akan kesakitan ketika berulang kali jatuh saat latihan naik sepeda. Yang sudah jatuh berkali-kali, bahkan ke sawah hingga menabrak rimbunan pohon bambu, namun tetap mencoba “harus bisa, aku bisa.” Yang tidak takut jatuh dari pohon, meskipun tidak tahu cara turunnya bagaimana. Aku ingin kembali. Aku ingin kembali ke masa, dimana hidupku masihlah milikku, dan segala yang kulakukan adalah untuk ku. Aku ingin kembali, setidaknya mengambil kembali ‘berani’ itu.  Berani ku yang dulu, yang selalu  menjadi sejatinya teman yang selalu berbisik “ayo lakukan.” Sedang kini aku begitu kesulitan menemukan dimana keberadaannya. Dimana dia bersembunyi, dimana dia tertinggal atau bahkan terkubur. Apakah yang dicari orang-orang dari menjadi ‘dewasa’? hanya takut dan resiko yang menjadi temannya. Pikirannya terisi gagal atau menang, hasil dan akhir. Ah, aku benar-benar ingin kembali. Ke masa dimana aku benar-benar menjalani hidup sebagai manusia. Tanpa sebutan yang melekat, tanpa label yang menjejal.