Giliran



Donokerto, Surabaya, 19-1-19




Lulus kuliah adalah perayaan penyelesaian masa studi dan awal dari pertempuran yang sebenarnya dengan kehidupan. Di masa kuliah, seseorang bertempur dengan ilmu, berhadapan dengan dosen, dan mahasiswa lainnya dan menghadapi masalah-masalah yang muncul di dalam lingkup kehidupan studi dan kuliah. Masalah dengan rekan mahasiswa atau mungkin pusing dan serba salah menghadapi dosen dan  masa skripsi. Wisuda dijadikan sebagai perayaan dari semua belenggu dan tekanan itu, bahagia dan haru bercampur jadi satu. Namun, hanya segelintir dari mereka yang benar-benar menyadari bahwa pertarungan sebenarnya berawal dari sana, dari hari wisuda mereka. Bekerja, adalah tantangan berikutnya dan segala yang datang berikutnya adalah pertarungan menghadapi kehidupan. Mencari pekerjaan, awalnya segalanya akan terasa biasa saja, namun akan terasa semakin menyesakkan ketika satu persatu dari rekan mendapat pekerjaan sedangkan diri sendiri belum menemukan apa-apa. Status media sosial yang memamerkan pekerjaan, tempat mereka bekerja dan perubahan style yang mencolok setelah bekerja, entah mengapa menjadi salah satu faktor penunjang stress terbesar bagi orang yang belum menemukan pekerjaan. Intinya, kita dihadapkan dengan perspektif “gagal” hanya karena orang lain telah lebih dulu mendapat pekerjaan. Belum lagi jika dihadapkan dengan lingkungan, ucapan dari orangtua, keluarga maupun tetangga. Sehingga, seseorang yang dihadapkan dengan situasi demikian cenderung mengalami depresi, tertekan dan terus-terusan menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal.

Melihat orang lain telah mendapat pekerjaan, kita cenderung merasa bahwa dia telah sukses dan kita telah gagal. Tanpa melihat dari sudut yang lain, tanpa memperhatikan dari sisi yang lain. Pada intinya, kita sedang menghakimi diri sendiri, bahkan sebagian di antara kita malah menghukum dan menyudutkan dirinya sendiri. Namun pernahkah kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini hanyalah soal “giliran”? Ada satu kutipan yang berbunyi “segala sesuatu di bawah langit ini ada masanya” maka, bukankah memang demikian adanya?

Membicarakan kehidupan, maka hakikatnya kita hanya sedang membicarakan soal “giliran.” Giliran? Ya! Kita hanya tidak memperhatikan bagaimana kehidupan ini bekerja, kita tidak memahami makna giliran itu. Manusia terlalu fokus pada tujuan dan hasil yang mereka dapat dalam hidup. Terlalu membanding-bandingkan segalanya, hingga tidak menyadari bagaimana proses itu terjadi. Hingga tidak menyadari bagaimana kehidupan itu sesungguhnya bekerja pada mereka dan bagaimana kehidupan itu kerap mengerjai mereka. Kita kerap dihadapkan dengan  tuntutan “hasil”, dimana yang satu lebih baik dari yang lain, dimana yang satu lebih buruk dari yang lainnya. Segalanya terpatok pada gagal dan menang.

Semua orang memiliki impian, semua orang memiliki cita-cita. Namun, sama seperti sidik jari yang berbeda pada setiap manusia, demikianlah jalan mereka, tidak ada yang sama. Ada orang-orang yang meraih prestasi di usia belia, namun ada juga orang-orang yang mendapatkannya di usia kepala enam bahkan tujuh. Ada orang yang lulus kuliah usia lima belas, dengan IQ yang luar biasa, namun ada juga orang yang lulus kuliah di usia tujuh puluhan yang kemudian namanya di sorot seluruh dunia. Ada orang yang mendapatkan pekerjaan membanggakan di usia sebelum dua puluh. Namun ada juga orang yang mati-matian mencari kerja hingga usia kepala tiga. Bukankah kehidupan ini sungguh lucu? Satu-satunya yang dia buat pasti hanyalah ketidakpastian. Satu-satunya yang dia ijinkan bertahta hanyalah kenyataan.

Seperti penyortiran botol yang akan dipakai untuk produksi di sebuah pabrik minuman. Seorang pekerja yang mempunyai tugas di bagian tersebut akan memasukkan botol satu persatu ke dalam mesin yang selanjutnya akan diisi minuman dan dikirim ke mesin pengemasan. Terdapat ratusan ribu botol yang digunakan setiap hari dan botol-botol tersebut akan masuk ke mesin menurut urutannya. Maka, bukankah kehidupan ini juga demikian? Kita hanya harus menunggu giliran, menunggu giliran wisuda, bekerja, mendapatkan cita-cita dan impian sesuai waktu dan urutan yang sudah ditentukan Sang Tuhan.  Maka sadarilah, orang lain lebih dulu wisuda bukan berarti kamu gagal. Orang lain lebih dulu bekerja, bukan berarti kamu tidak layak. Bahkan, jika orang lain lebih dulu menikah dan memiliki anak, bukan berarti kamu tidak akan mendapatkan hal serupa. Segalanya hanya soal urutan dan waktu. Orang lain lebih dulu mendapatkan cita-cita mereka, bukan berarti kamu tidak layak atau tidak pantas untuk cita-cita mu. Jika orang lain lebih dulu meraih impian mereka, bukan berarti Tuhan melupakan mu dan mengabaikan impian mu. Mungkin, giliran merekalah yang lebih dulu mendapatkannya. Mungkin, giliran mu belakangan atau mungkin selanjutnya segera menyusul mereka, but who knows? Only God. The God! Maka pahamilah, jika kamu belum mendapatkan impian mu, sesungguhnya yang kau butuhkan saat ini hanyalah “kesabaran.” Kesabaran menunggu segalanya di bawa oleh sang waktu, menunggu datangnya giliran mu yang kan dibawa oleh sang takdir itu. Tidak perlu cemburu atau iri dengan pencapaian orang lain. Just remember “everyone deserve what they get now”. Mungkin kau bertanya-tanya “apa aku begitu layak untuk sakit hati? Apa aku begitu layak untuk merasa sehancur ini?” hey buddy! When you realize that you deserve what you get now, then you deserve what will you get tomorrow. Jika kamu menyadari dan mengakui bahwa kamu layak untuk mendapatkan yang saat ini kamu dapat, entah itu kesedihan atau kebahagiaan, maka kau pun akan layak untuk mendapatkan kebahagiaan esok hari. Karena? Karena kau telah melapangkan jiwa mu untuk mewadahi bahagia itu.  Mungkin kau merasa tidak adil. Tapi bukankah kehidupan itu memang demikian? Dia begitu mengesalkan. Tapi, mungkin sejatinya tidak. Karena, jika semua orang memiliki giliran yang sama bukankah itu kekacauan? Hatimu digores semakin dalam agar semakin lapang dia mewadahi kebahagiaan yang akan datang. 

Sebuah tips untuk mu soal kesabaran akan giliran, jika kau sudah kewalahan dan tidak sabaran menunggu giliran mu, pikirkan saja soal kematian. Kira-kira nomor berapakah giliran mu? Atau yang selanjutnya mungkin akan jadi milikmu? HAHAHA have fun, always be happy. This life is jealousy, so don’t be the other one. Just remember, the great happiness came in a painful way. And when that day comes, shout with loudly "THIS IS MY TURN!!"