Real Life is "No Expectation"



Terlalu mudah berekspektasi akan sesuatu adalah hal yang paling salah untuk dilakukan. Satu-satunya yang sedang terjadi pada proses itu hanyalah sedang mati-matian mengecewakan diri sendiri. Sama saja seperti meletakkan gelas di atas tongkat dan berharap gelas itu tidak akan jatuh dan pecah. Sesederhana inilah penjelasannya, namun begitu sulit menjalankannya, dan setiap orang mengetahui itu dengan demikian jelasnya. Maka Sebenarnya kita sedang menumpukan hidup pada kekecewaan namun berharap penuh agar tidak dikecewakan dan sakit hati. Sungguh melelahkan.

Seseorang bisa saja menaruh ekspektasinya pada keluarganya, pada teman-temannya, pada kekasihnya atau pada kehidupan. Namun, dari semua itu pasti ada yang ujung-ujungnya tertinggal ekspektasi lalu meninggalkan goresan menyakitkan di jiwanya. Kekecewaan itu pasti terjadi namun berbeda halnya jika ditimbulkan ekspektasi. Ekspektasi yang berujung kekecewaan seringkali meninggalkan trauma dan juga jera. Jera untuk mempercayai orang lain misalnya karena terlalu berharap orang tersebut akan menetap dan bukan hanya singgah. Kekecewaan karena ekspektasi tinggi dapat membuat seseorang akhirnya meragukan yang namanya harapan sehingga akhirnya berhenti memiliki harapan. Karena itu ekspektasi sebenarnya berbahaya bagi hidup seseorang dan Itulah mengapa sebuah kutipan berbunyi “berharaplah namun bukan berekspektasi”.

Hidup ini terkadang lucu, terkadang menyakitkan dan terkadang mengerikan. Adalah hal yang mudah untuk menderita dan kesakitan, namun begitu sulit hanya untuk menemukan kebahagiaan. Orang-orang berkata “kebahagiaan itu kau temukan pada diri sendiri” namun, bagaimana kau bisa bahagia sementara kenyataan begitu menyiksa? Bagimana kau bisa tersenyum tulus sementara harapan mu pupus begitu saja dan tertinggal kecewa? Bagaimana kau bisa merogoh hatimu untuk mengambil bahagia itu jika yang kau harapkan malah meninggalkan mu sendirian? Kadang muncul pertanyaan pada diri sendiri “apa aku tidak layak mendapat apapun?” pertanyaan yang akhirnya menggambarkan segala sakit itu, segala perih dan derita itu.


Sekali lagi, kehilangan harapan itu berbahaya. Harapan adalah jiwa manusia, nyawa manusia itu sendiri. Manusia yang hidup tanpa harapan tak ubahnya mayat berjalan. Putus harapan dapat berakibat fatal bagi seseorang. Mengakhiri hidup, bunuh diri adalah salah satunya. Satu-satunya yang membuat manusia itu berani untuk menjalani hidup adalah harapan. Namun, satu-satunya yang membuat manusia itu berani untuk menghadapi kematian dengan cara menyakitkan, juga karena putus harapan. Maka seharusnya, setiap orang harus menyadari pentingnya harapan itu untuk mencegah hal ini terjadi. Karena satu-satunya yang kita sakiti adalah diri sendiri, satu-satunya yang sedang kita siksa dan kita bunuh adalah diri sendiri, orang lain hanya akan mengetahui namun tidak mengerti.

Jika kau kini sedang diambang putus harapan, jika kau kini sedang begitu dikecewakan kehidupan dan orang-orang yang kau cintai, ataupun kehidupan ini seolah tidak memberi mu celah untuk bahagia, tariklah napas sebentar, nikmati angin sepoi yang pelan menyentuh raga. Sadarilah bahwa udara masih berhembus, dan sadarilah bahwa jiwa mu masih di raga mu. Untuk kesakitan dalam kesendirian itu kau tidak sendiri. Ada ribuan, ratus ribuan orang yang mengalami hal yang sama namun tidak saling mengenal dan mengetahui. Harapan mu adalah harapan mereka juga dan doa mu adalah doa mereka juga. Maka kuat mu akan menjadi kuat mereka juga. Kita seolah disatukan nadi yang sama karena sakit yang sama.

Kesakitan ini menyatukan dalam ketidaktahuan masing-masing orangnya. Kita, orang-orang yang dicemburui kehidupan. Kita, orang-orang yang tidak berhenti disakiti kehidupan. Kuatlah di seberang sana, agar aku kuat di seberang sini, ayo sama-sama berjuang dalam doa yang bisu. Dalam harap yang senyap. Saling mendoakan seolah begitu mengenal. Aku dan kamu tidak sendirian. Jangan menyerah, kehidupan itu akan menang. Dia sudah mengalahkan banyak orang, mereka hilang dalam kesakitan. Maka jangan biarkan dia menang lagi. Agar hilang mereka tidak menjadi sia-sia. Harus ada yang membalas perbuatan kehidupan itu, maka itu haruslah kamu, haruslah kita yang masih memiliki sisa usia. Maka jangan berhenti berharap, berharaplah terus meski kecewa hingga terbiasa. Hingga itu seolah jadi camilan, jadi kudapan. Kita harus hidup, kau harus hidup.