FAIR PLAY

                                                

Kehidupan tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Banyak, bahkan terlalu banyak hal. Sehingga hampir semua waktu kita pakai untuk membicarakan itu. Sialnya, dalam kehidupan ini kita hanya penumpang. Kita berjalan seolah hanya menumpang lewat dari depan muka sang kehidupan itu. Karena bahkan kita tidak bisa mengendalikannya, tidak dapat mengubah hakikatnya dan jalan ceritanya. Kita hanyalah mahluk yang ‘sejenak’ diberi hak memiliki kehidupan, lalu kehidupan itu diberi hak untuk mengerjai dan menghajar kita sesukanya. Lalu setelah kehidupan itu puas bermain-main atas kita, wusss… kita ditarik lalu dikirim ke dunia yang berbeda yang entah apa namanya. Yang entah bagaimana wujud dan rupanya. Inilah kehidupan, selama kita masih memiliki sisa usia maka selama itu juga kita akan sibuk berjudi dengan takdir, bagaimana hari esok akan datang kiranya.


Hidup tidak pernah mudah, bahkan hanya untuk sekedar tersenyum mensyukurinya. Kehidupanlah yang membuat manusia sadar, betapa susahnya melengkungkan bibir dengan tulus ketika kehidupan sedang sibuk-sibuknya menghajar. Sangat susah, bahkan terkadang belum sudut senyum itu dapat diukir paksa dengan sempurna, airmata sudah membanjir dari pelupuk mata.

Hidup itu juga tidak akan pernah adil meski kau habiskan hidupmu untuk bermain adil. Dia akan kirimi segala hal, segala hal yang bisa menghancurkan mu, bukan hanya raga tapi juga jiwa, hingga ke benak, bahkan nurani manusia itu bisa dibuatnya tidak bersisa. Kita sering menemuinya, ada orang yang tidak sempurna raganya. Ada yang tidak sempurna mental dan kejiwaannya. Dan ada yang hanya tertinggal nyawa di raga. Berjalan seperti mayat hidup dengan tatapan nanarnya. Dan ada yang sudah kehilangan nuraninya, menghancurkan apapun, siapapun, tidak lagi peduli asal dia mendapatkan yang dia inginkan. Tidak peduli berapa banyak penderitaan yang ditimbulkan, tidak peduli siapa saja yang tersiksa asal dia mendapatkan segalanya.


Bermain adil itu artinya kau bersiap untuk dihajar dan dihabisi bukan karena kesalahan yang kau perbuat. Ketika kau mendapat lawan, dan kau putuskan untuk bermain adil, maka disaat itu juga kau harus sadar bahwa itulah izin tertulis yang kau berikan pada kehidupan ini untuk meremukkan mu. Jika bukan ragamu yang hancur, maka setidaknya benak, hati dan jiwa mu akan diusahakannya tertinggal puing dan runtuhan. Ketika kau mendapat satu lawan atas dasar apa yang terjadi yang melibatkan mu, jika kau berada di pihak yang benar maka itu artinya semakin jauh pintu damai dan tenang itu dari rute mu. Kehidupan itu curang, maka pada yang salah akan dia hadiahi teman dan sanjungan, kekuasaan dan kekuatan. Sedang pada yang benar dihadiahinya hinaan, makian, penderitaan, cemoohan dan segala yang paling rendah di muka bumi. Menurut mu, berapa orang di dunia ini orang yang bersalah yang mengakui kesalahannya, lalu meminta maaf, lalu berusaha memperbaiki kesalahan itu dengan sekuat tenaga? Bukankah orang yang begini yang kita sebut orang baik? Orang yang mengakui kesalahannya dan memperbaikinya tidak akan disebut sebagai orang yang salah atau ‘penjahat’ karena orang yang ‘salah’ yang sesungguhnya tidak mengenal apa itu kata maaf. Pihak yang salah tidak akan pernah bermain adil, there is no fair play. There is no ‘sorry’ and ‘mercy’.  Dan dia juga tidak akan  sendirian. Semakin seseorang itu bersalah maka akan semakin curang dia dalam setiap permainan, dan akan semakin gencar pula dia mencari rekan, untuk pembelaan atau sebagai alat untuk melawan tanpa melukai dirinya sendiri. Bahkan kalau bisa membentuk koloni untuk dia perdaya dan korbankan dalam upaya penyelamatan diri sendiri. Namun semakin benar seseorang, maka berdiri sendirian pun dia tidak akan ketakutan. Justru dia akan berusaha untuk tidak melibatkan siapapun, karena dia tidak ingin siapapun terluka karena dirinya. Lebih baik mati sendirian dalam pertarungan daripada mengorbankan orang lain yang tidak bersalah. Perbedaan yang kontras. Singkatnya, semakin kau salah semakin segalanya kan terasa mudah. Semakin kau benar dan adil, maka segalanya akan semakin mengerikan. Namun inilah kehidupan yang sebenarnya. Itulah mengapa, kau tidak akan pernah melihat penjahat sendirian. Mereka akan membentuk koloni dengan akar tujuan yang sama, meraup segala yang mereka bisa, tanpa ambil pusing jika itu bisa membuat orang lain menderita. Mereka inilah bentuk nyata dari orang-orang yang sudah kosong ruang hatinya. Tidak ada lagi nurani di dalamnya.


Kehidupan itu lucu, semakin seseorang benar maka semakin dia akan terpojok. Semakin pula dunia menjauhinya seolah dialah mahluk yang paling hina dan pendosa. Maka jika kau kini dalam sebuah masalah dan pihak mu begitu banyak dibanding lawan mu, maka coba tanyakan lagi dirimu kerena mungkin kaulah yang salah. Jika kau masih bisa menceritakannya pada semua orang dan semua orang itu dengan mudah setuju padamu dan mendukungmu, maka coba pikirkan lagi. Mungkin pada pertarungan mu itu, kaulah yang curang. Karena benar tidak butuh pengakuan. Dia tidak akan berjalan ke semua orang dengan mulut berbusa penuh kata-kata. Tapi dia akan diam, merenungi segalanya, mempersiapkan dirinya untuk pertarungan (baca: dihajar habis-habisan). Namun benar tidak akan pernah menjadi barang yang murah dan mudah. Dia berduri dan tajam, berdarah, perih, pahit dan menyakitkan. Tapi sebanyak apapun darah yang ditumpahkan, sedalam apapun durinya menancap, selebar apapun lukanya, seperih-sepahit-segetir apapun sakitnya, benar itu tidak akan pernah kalah. Mungkin dia hanya satu dibanding ratusan ribu. Belum ratusan ribu itu hilang satu, sudah beranak pinak, bercabang menjadi dua ratus ribu. Sedangkan si benar itu hanya sendiri, takkan butuh upaya banyak tuk dipijak lalu mati tertinggal nama. Mati dengan cara paling terhina, tanpa penghormatan. Tapi akan ada benar yang lain mengikutinya, lalu semakin banyak, maka saat itu waktu akan memainkan perannya. Dua ratus ribu salah itu akan tumbang satu persatu tanpa ampun, ditebas, ditumpas hingga tandas.


Nyatanya, kehidupan itu memang gemar bergurau. Pada ‘benar’ itu diberikannya jalan panjang penuh sakit, pilu, dan luka-luka, dan dihadiahinya dengan akhir yang begitu bahagia dan damai. Dan kadang berwujud 'nirwana'. Dan pada ‘salah’ itu diberikannya jalan penuh bunga, kekuatan, kekuasaan dan uang. Namun dihadiahinya dengan akhir paling pilu, paling pahit, paling getir. Entah siapa yang merancang wujud kehidupan ini begini adanya. Namun inilah nyata yang ada di depan mata. Nyata yang paling ingin disangkal logika, namun juga tamparan yang paling menyegarkan, pun menyadarkan muka.